Saturday, 17 September 2016

Self Reminder ( 1 )

Sabtu yang indah,
meski kata orang saat ini tanda2 akhir zaman semakin tampak:

● Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah.
●Travelling keliling dunia, tapi tidak kenal tetangga sendiri.
● Penghasilan semakin meningkat, ketenteraman jiwa semakin berkurang.
● Kualitas Ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah.
● Jumlah Manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis.
● Pengetahuan semakin bagus, kearifan semakin berkurang.
● Semakin banyak teman di dunia maya, tapi tidak punya sahabat yg sejati.
● Pakai jam tangan mahal, tapi tak pernah tepat waktu.
● Ilmu semakin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap
● Belajar semakin mudah, guru semakin tidak dihargai.
● Teknologi Informasi semakin canggih, fitnah dan aib semakin tersebar.
● Orang yg rendah ilmu banyak bicara, orang yg tinggi ilmu banyak terdiam.
● Tontonan semakin banyak, tuntunan semakin berkurang...

Mengapa tetap indah?
Karena saya percaya,
Dia tak pernah meninggalkanku.
Karena meski ada kabar buruk:
tak ada yang sempurna dalam hidup ini.
Tapi selalu ada kabar baik:
tak perlu sempurna utk bisa menikmati hidup

Tulisan : Kang Maman _ Notulen ILK Trans7

Tuesday, 6 September 2016

Vlog Perdana di Citizen Journalist NET.tv



Alhamdulillah,dalam kerempongan mengurus ibunda yang stroke,vlog yang saya buat saat jalan-jalan di Penang tentang keunikan kereta peninggalan Inggris di Penang Hill yang miringnya hampir 45’akhirnya ditayangkan di NET10 / Citizen Journalist.Padahal saya mengirimnya sudah lama juga sehabis jalan-jalan kalau tak salah akhir Mei 2016 dan baru tayang bulan Juli 2016.Dan honornya lumayan,namanya juga iseng bikin vlog pakai kamera digital.Dan itupun juga satu-satunya vlog yang saya buat selama perjalanan ke Malaysia dan Singapura.


Sebenarnya ada beberapa ide untuk vlog perjalanan saya kemarin itu,seperti kemudahan,nyaman dan bersihnya transportasi di negara tetangga,membahas mural di Penang ( ehh malah mural / art streetnya ga ketemu disana ),ngerekam rumah peninggalan P.Ramlee di Penang ( yang lagunya diremake lagi oleh Ahmad Dhani “ Madu Tiga” ) serta ngerekam tentang kuliner di masing-masing kota yang dikunjungi.Tapi semua akhirnya buyar,mood hilang ketika koper saya hilang ( kembali baca ceritanya yaa tentang koper hilang di blog sebelumnya )
Tak apalah,biar cuma satu vlog yang dibuat tapi alhamdulillah ditayangkan.Jadi motivasi juga untuk mencari ide-ide baru dan liputan yang lebih unik dan khas.




Fasilitas Umum Untuk Kaum Difabel



Wahh sudah lama juga tak menulis untuk blog ini.Waktu banyak tersita mengurus ibunda yang sehabis Lebaran kemarin ( Juli 2016 ) terkena stroke,sampai harus rawat inap dua kali.Saat saya menulis ini,ibunda tercinta masih menjalani terapi di RS.

Kalau sebelum beliau stroke,ibunda masih bisa jalan walau untuk jalan jauh harus memakai kursi roda.Tapi sekarang berasa ya ( sejak ibunda stroke dan geraknya makin terbatas )  fasilitas umum untuk kaum difabel agak kurang terperhatikan di Indonesia khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Saya membayangkan,coba kereta commuter Jabodetabek sarana umum di setiap stasiunnya untuk kaum difabel diperhatikan,saya akan lebih nyaman membawa ibunda berobat di Jakarta naik commuter.Ga perlu bermacet-macet nyetir mobil.
Foto Sumber : Google

Berkaca ke negara tetangga Singapura,kaum difabel mau naik kereta juga nyaman.Ada lift di setiap stasiun selain eskalator.Jalanan khusus juga disediakan,bahkan bus umum juga ramah terhadap para penyandang difabel.Memang beberapa waktu lalu Ahok meluncurkan bus Trans Jakarta yang ramah untuk para difabel.Tapi sepertinya ya belum benar-benar menyeluruh di semua sarana umum.

Yang ada hanya khayalan,negeri ini lebih baik sarana dan prasarana umumnya…
 
Entah kapan…
Foto Sumber : Google

Friday, 8 July 2016

Jangan Latih Anak-anak Dijemput KBRI..

Jangan Latih Anak-anak Dijemput KBRI..! Oleh: Rhenald Kasali

Mungkin kita semua sepakat, anak-anak yang pintar di sekolah belum tentu pintar dalam kehidupan.
Sayangnya banyak orang tua yang masih berpikir, kalau anaknya juara kelas, pintar di sekolah, pasti akan pintar menjalani hidup. Untuk itulah sering kita lihat orang tua yang amat protektif, membuat anak merasa sudah belajar walau itu hanya di sekolah. Sedangkan perjalanannya menuju sekolah, pergaulannnya, kebiasaannya mengambil keputusan dalam keadaan sulit, selalu disterilisasi orangtua. Apalagi bila orang tua punya kuasa, banyak koneksi, punya uang, maka semua itu akan distrerilisasi lebih luas lagi. Padahal yang membentuk orang tuanya hari ini sukses sudah jelas: orangtua mereka tak seprotektif mereka. Kalau sudah begitu, apa hasilnya? Anda lihat sendiri, banyak anak-anak pandai di sekolah tak berdaya saat di-bully kawan-kawannya, kurang bergaul, dan bila dikejar anjing di kampung, ia tidak bisa melompat, larinya tercekat. Dan di usia dewasa, ia bisa menjadi sosok yang sulit bagi teman-teman, pasangan dan kolega-koleganya. Ia akan merasa terus pandai, seakan-akan kecerdasaannya tetap, tak berubah.

Ke Luar Negeri, Bagus Pepatah mengatakan, dunia ini ibarat sebuah buku. Mereka yang tak melakukan perjalanan (hanya kuliah saja), hanya membaca satu halaman. Terilhami oleh Susi Pudjiastuti, saya pun menugaskan mahasiswa ke mancanegara. Tidak main-main. Satu orang satu negara. Menteri Kelautan dan Perikanan ini, sejak remaja sudah menyewa truk dari kampungnya di Pangandaran, hanya bersama seorang sopir, ia pergi membeli ikan ke Cirebon atau Indramayu, lalu berjualan ke Pasar Ikan di Jakarta. Bila dulu saya menugaskan tiga orang satu negara, sejak kehadiran Ibu Susi di kelas itu, saya mengubahnya menjadi satu negara-satu orang. Syaratnya, tidak boleh di antar, dan tak boleh ada yang menjemput. Itupun harus pergi ke negara yang tak berbahasa Melayu. Anda tahu siapa musuh program ini? Para mahasiswa melaporkan, ada dua pihak. Pertama adalah orang tua yang selalu beranggapan anaknya bak princess. Orangtua bahkan merespon dengan negatif, takut anaknya kesasar. Padahal doktrin kelas itu sejak awal sangat jelas, “Berpikir karena kesasar.” Setiap kali orangtua protes, saya selalu bilang, “Memang kalau tersasar, mengapa?” Dari situ, sebagian tiba-tiba tersentak dan tertegun sendiri karena hampir semua orangtua pasti pernah kesasar, dan toh akhirnya pulang juga dengan selamat. Malah menjadi semakin pandai, lebih percaya diri. Sebagian lagi, responsnya begitulah, memindahkan anaknya ke kelas lain. Mereka mengambil keputusan untuk anaknya yang sudah dewasa dengan menghentikan sebuah proses belajar yang penting untuk membangun hidup mereka. Orangtua juga mengatur banyak hal. Tiket pesawat, rute tujuan, menginap di mana, siapa yang jemput, makan apa, pakaian dan perlengkapan, sampai SIM Card dan obat-obatan. Padahal anaknya gaul, sehat, senang berpetualang. Dan kalau diatur, ia malah menjadi merasa tak dipecaya, bahkan malu dengan kawan-kawannya. Bagi saya, ini semua bisa membuat anak kurang terlatih menghadapi kesulitan. Sebab setiap kali menghadapi persoalan kecil saja, mereka bisa menghindar dan cepat-cepat minta bantuan. Dan musuh kedua adalah, para dosen sendiri. Ya, para akademisi percaya anak pintar itu tak boleh banyak bermain. Baca, baca, baca, buat tugas. Padahal anak-anak pintar itu terlalu serius, terlalu steril dan kurang bermain. Anda tahu apa yang dilakukan orangtua agar anak-anaknya diterima di perguruan tinggi yang bagus? Mungkin Anda bisa lihat bagaimana treatment orangtua sejak anaknya masih kecil. Jangankan untuk menuju perguruan tinggi, untuk diterima di SMP yang bagus saja, sejak kelas 5 SD anak-anak itu sudah dilatih pulang sore/malam hari, ikut les ini dan itu. Katanya untuk diterima di SMP A harus ikut bimbel di B. Kalau sudah begitu, anak-anak yang pandai ini menjadi kurang bergaul dan menjadi kurang asyik di mata teman-temannya. Mereka dicetak dalam alam berpikir bahwa pandai dalam kehidupan itu ada di ruang kelas, melalui program tertulis. Padahal pandai itu adalah mampu mengambil keputusan yang tepat. Bayangkan, bila sejak kecil sampai dewasa anak-anak itu tak pernah berlatih mengambil keputusan dalam keadaan sulit. Bahkan untuk naik taksi saja ia tak berani. Pergi ke luar negeri seorang diri, bagi seorang anak ia akan belajar banyak hal. Bagaimana kalau ketinggalan pesawat, kehilangan bagasi, kesasar, diganggu orang, mengunjungi situs-situs penting, mengatur waktu, makan, dan seterusnya. Mengapa harus dijemput? Kisah anak-anak pejabat yang orang tuanya begitu bernafsu mengatur dan mengawal anak-anaknya agar tak kesasar di luar negeri, saat ini sudah amat keterlaluan. Orang tua telah mengambil hak-hak penting si anak untuk menjadi rajawali. Anak diasumsikan sebagai sosok yang tak mampu bergerak sendiri, dan seakan-akan alam tak memberi ruang bagi anak untuk belajar. Padahal, anak SLB sekalipun punya kemampuan belajar yang luar biasa kalau diberi kesempatan, dan sebaliknya kalau dianggap bodoh. Mungkin anda sudah menerima catatan seorang dosen di Surabaya yang viral dua hari ini. Sayang, saya tak menemukan sumbernya setelah beredar dari satu WA ke WA lainnya. Tapi saya kira apa yang dilakukan untuk merekam momen yang ia lihat dan catat harus kita hargai. Ini sebuah catatan yang istimewa bagi para orangtua dan pendidik. Ia mencatat kejadian saat menemukan seorang siswa SLB penderita tunagrahita yang begitu bahagia saat menemukan alamat yang dicari. Siswa itu kabarnya diberangkatkan dari Jogja untuk mencari alamat di Surabaya. "Syaratnya boleh bertanya, namun tidak boleh diantar, tidak boleh naik kendaraan yang bersifat mengantar seperti taxi dan becak. Tidak boleh meminta - minta. Dan masih banyak aturan lain Bahkan dia mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya." Catat orang berjasa ini. Tapi yang membuat saya tercengang adalah catatannya yang ini: "Dia berkata bahwa dia dilarang bersedih. "Kata pak Guru aku ngga boleh sedih, kalau sedih nanti bodoh lagi", ucapnya polos." Sekarang tinggallah kita memeriksa apa yang telah kita lakukan pada anak-anak kita. Apakah benar kita telah melatih anak-anak kita untuk menjadi pemimpin yang hebat, rajawali yang matanya tajam dan mampu terbang tinggi, atau menjafikan mereka burung dara yang indah, yang sayap-sayapnya terjahit. Anak-anak yang dijemput dengan fasilitas yang dimiliki orantua akan kehilangan banyak momen yang bisa membuat ia kelak lebih pandai dalam hidup. Kisah anak-anak saya di Fakultas Ekonomi yang pergi ke luar negeri sudah dibukukan oleh mereka sendiri dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor. Edisi terbaru juga telah disiapkan anak-anak itu dalam episode Duta Perdamaian. Ketika mendengarkan presentasi mereka, saya selalu belajar bahwa anak-anak hebat ini kelak akan menjadi lebih hebat lagi. Dengan metode sharing economy, mereka kini bisa menyebar ke mancanegara dengan biaya minimal. Tak terbayangkan bagaimana mahasiswi saya yang dompetnya hilang di London bisa tetap menyelesaikan misinya hingga ke Scotlandia, menembus dua negara selama 10 hari dengan sehat. Tak terbayangkan bagaimana mereka mengajarkan dua perempuan Jepang memakai hijab. Tak terpikirkan pula bagaimana mereka berkenalan dengan anak-anak konglomerat dan dijadikan narasumber di berbagai kampus yang mereka kunjungi. Anak-anak yang steril tak punya cerita menurut versi mereka sendiri. Dan anak-anak itu bisa jadi pembual yang hebat. Tetapi anak-anak yang tak dijemput KBRI kalau ke luar negri, yang berani menghadapi hidup ini dalam perhitungan yang dilatih sendiri, kelak akan mempunyai story versi mereka sendiri. Personal story adalah modal dasar seorang pemimpin. Ia akan merasa hidupnya berarti, dan sadar bahwa di luar sekolah ada banyak pelajaran yang bisa melatih kepemimpian, empati sosial dan pemgambilan keputusan. Jadi, sudahlah. Hentikan dagelan ini, orangtua! ©2016 PT. Kompas Cyber Media

Aku Belajar

🌹 AKU BELAJAR 🌹

Aku belajar bersabar dari sebuah kemarahan... 
Aku belajar mengalah dari sebuah keegoisan... 
Aku belajar tersenyum dari suatu kesedihan.... 
Aku belajar tegar dari suatu kehilangan... 
Hidup adalah BELAJAR..... 
Belajar bersyukur meskipun tak puas... Belajar ikhlas meskipun tak rela.... Belajar taat meskipun berat... Belajar memahami meskipun tak sehati... Belajar sabar meski terbebani...
Belajar memberi meski tak seberapa... Belajar mengasihi meski tersakiti.... Belajar tenang meski gelisah....
Belajar percaya meski susah.... Belajar tabah meski cobaan menerpa... 🌹 ​Aku belajar.... bahwa tidak selamanya hidup ini indah,
kadang ALLAH menyapaku melalui derita. Tetapi aku tahu bahwa IA tidak pernah meninggalkanku, sebab itu aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur. 🌹 Aku belajar.... bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan,
kadang ALLAH membelokkan rencanaku.
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang kurencanakan,
sebab itu aku belajar menerima semua itu dengan sukacita. 🌹 Aku belajar.... bahwa cobaan itu pasti datang dalam hidupku.
Aku tak mau dipengaruhi setan utk marah dan emosi,
aku tak mau menyalahkan orang lain,
Juga tidak mungkin berkata "tidak adil ALLAH". Karena aku tahu bahwa semua itu tidak akan melampaui kekuatanku,
sebab itu aku belajar menghadapinya dengan sabar. 🌹 Aku belajar.... bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali & ditangisi, karena semua rancanganNYA indah bagiku.
Maka dari itu aku belajar bersabar, bersyukur & bersukacita dalam segala perkara.
Karena semua itu menyehatkan jiwa & menyegarkan hidupku... Saudaraku...
• Ketika "Kaki" sudah tak kuat berdiri... "BERSIMPUHLAH". • Ketika "Tangan" sudah tak kuat menggenggam... "LIPATLAH" • Ketika "Kepala" sudah tak kuat ditegakkan... "MENUNDUKLAH" • Ketika "Hati" sudah tak kuat menahan kesedihan... "MENANGISLAH. • Ketika "Hidup" sudah tak mampu untuk dihadapi... "BERDOALAH"
ALLAH selalu setia bersama kita... dan apa saja yang kita minta dalam DOA dengan penuh keyakinan, pasti Ia akan menerimanya..

Copas  @Regrann from @wanitasaleha

Kebutuhan Atau Konsumtif ?



Kadang saya suka miris dengan curhatan teman dekat,hutangnya via kartu kredit sampai numpuk dan hutangnya itu entah sampai kapan akan lunas.Secara dicicil bayarnya tiap bulan.Dia mengeluh ga bisa mengendalikan diri belanja online.Terkadang kalau galau larinya ke belanja.Padahal barang yang dibeli juga ga butuh-butuh amat,jadinya konsumtif kan?

Padahal kalau saja dia bisa melunasi hutang-hutangnya yang numpuk itu,semisal uang THR yang didapat kemarin dialokasikan separuhnya atau bahkan seluruhnya untuk membayar hutang,saya rasa hidupnya lebih tenang,tak stress terus menerus.

Padahal seandainya dia tahu,kartu kredit ataupun KTA adalah rentenir berkrah putih.Bunga berbunga,Kalau saja dia memahami soal riba dan hutang dalam Islam.Jangan sampai kita mati penuh dengan hutang,Nauzubillah…Itulah kenapa beberapa kajian soal hutang yang pernah saya baca mengatakan,kalau bisa janganlah kita membeli sesuatu dengan berhutang.

Tapi ya namanya hidup masa kini,dengan segala godaan duniawi.Sanggupkah kita bertahan dengan apa adanya kita? Mau punya handphone yang keren harganya sampai 7 jeti.Ngumpulin uang sisa gajian sampai kapan bisa tertabung? Kalau gajinya puluhan juta sich wajar bisa beberapa bulan saja menabung.Tapi kalau gajinya kecil  ibarat pungguk merindukan bulan,jalan satu-satunya meraih yang diinginkan ya dengan berhutang.Apalagi kartu kredit gencar juga menawarkan program cicilan bunga 0%  ibarat gayung bersambut.Kadang itu hanya keinginan bukan kebutuhan,konsumtif dengan cara instan.Yakin ga tuch bunganya  0% ? Mana ada di dunia ini yang gretong,kita sebagai konsumen harus selektif dan jangan cepat terlena.

Mungkin karena saya pernah bekerja di perusahaan leasing / finance dan juga di sebuah bank,saya cukup tahu lika liku soal hutang piutang ini.Saya bersinggungan langsung dengan para customer dan juga debt collector,Kadang saya miris mendapati customer kartu kredit yang lugu,tak tahu menahu kalau kartu itu dipakai ada bunga yang cukup tinggi menanti.Mereka dengan santainya menggunakan kartunya,sampai hutang menumpuk dan harus berurusan dengan debt collector.Kalau customer yang cuek bleh sich jangan ditanya lagi,malah banyak juga yang ibarat “maling”,sampai-sampai debt collector saja kehilangan jejaknya.

Dan Alhamdulillah,selama ini apapun keinginan ataupun benar-benar kebutuhan,saya selalu beli dengan tunai.Triknya adalah dengan rajin menabung.Apapun keinginan saya,saya pastikan harus sesuai dengan kantong.Jangan sampai besar pasak daripada tiang.Ternyata suamipun berprinsip sama.Kami selalu takut berhutang,apalagi berurusan dengan bank,kecuali memang benar-benar kepepet,hikss.Jadi hidup kami bisa dilihat ya biasa saja.Jadi teringat salah satu postingan di grup whatsapp yang menjadi warning bagi saya,cekidot….

Copas sebelah
MANUSIA-MANUSIA TANPA HUTANG (CERITA 1)
Kawanku di Jakarta hijrahnya gak tanggung-tanggung, rumahnya yang masih KPR dijual, Honda Jazz putih yang dulu perlente dipakainya pun dijual. Sekarang tinggal di rumah kontrakan, memulai bisnis baru yang sangat berbeda dengan bisnisnya yang dulu.
"Sap, ketika aku menjual semua asetku dan hutangku lunas, ada perasaan plong di hati yang tidak ternilai, bangun pagi rasanya bebasssss... Tak ada sedikitpun mikiran cicilan ini itu lagi. Sebulan kalo dapat uang 20jt, duitnya ya utuh, kebutuhan keluarga paling 5 juta dah cukup.. Gak ada lagi kertas-kertas tagihan dengan nominal dan beban bunga yang bikin nyesek! Dan Allah tidak pernah ingkar janji.. Aku bisa memulai bisnis lagi, bangkit lagi, tanpa harus hutang disana-sini"
Senyumnya begitu lepas.. Tanpa beban.

Kawanku lainnya di Jogja, pengusaha advertising memilih tak pernah tanda tangan apapun dengan surat hutang. Mobil sudah ada dari kantor untuk operasional, wira wiri dia masih setia naik motor, kalo ku goda
"wis dadi boss mbok numpak mobil Mas"
jawabnya cukup sesederhana ini:
"ah Valentino Rossi yang kaya raya aja naik motor kok"

Penghasilannya sebagai pemilik bisnis, penulis buku, dan inspirator di berbagai seminar tentu gampang kalo untuk datang ke dealer, tanda tangan surat hutang, DP 30% dan langsung bawa pulang Innova pun bisa. Tapi itu tidak dilakukannya.. Tetap naik motor, tapi kemarin beli iPhone 6plus harga 14 juta pun cash, beli MacBook puluhan juta pun cash, iPad malah ada yang ngasih.

"Mas aku mau beli rumah nih, tapi cash gak  mau hutang.. Sekarang terus ngumpulin uang, ketemu yang cocok bayar.."

"Enak lho gak punya hutang, sholat juga tenang, gak kemrungsung, naik motor juga woles aja tuh.. Gak takut dikuntit debt colector, di rumah juga santai gak ada penagih hutang gedor-gedor rumah" lanjutnya
Mmmm.. Gitu yaa
Ada lagi anak muda yang baru kukenal di Jogja, bisnisnya baru dua tahun tapi tumbuh luar biasa, bangkrut di bisnis jualan jus usai jadi sarjana, sempat galau lalu bangkit dengan bisnis ayam gepreknya. Join dengan kawannya, kerja bareng-bareng memulai usaha, fokus, tekun, gak neko-neko.. Sekarang sehari omzetnya tembus 13-15 juta. Kutanya langsung isi dapurnya, dengan omzet segitu sebulan dapat profit bersih berapa?
"Alhamdulillah mas, bulan kemarin bersih dapat 97 juta"
Wow!!!
"Kalian punya hutang di bank?" Tanyaku
"Sejak awal bisnis kami tidak pernah berhutang, setiap ada untung kami gak ambil, diputer terus, digulung terus, puter lagi, sampai sekarang punya 3 cabang. Kami ingin fokus di bisnis mas, bukan di hutang..."

Anak muda dengan profit nyaris 100jt sebulan itu tetap naik motor ketika berlalu dari hadapanku..
Wahai.. Wahai..
Wahai dirimu yang masih berprinsip hutang itu mulia, numpuk hutang disana-sini, bangga banget dengan aset hutangan yang dipamerkan di semua sosmed, agar dapat label "sudah saksesss!!" dari kawan dan orang sekitar,
inget... kalo engkau tidak mampu membayar hutang akan masuk kategori gharim..
Layak dan berhak dizakati..
Mendapat bagian 2,5% dari harta orang lain seperti fakir miskin.
Mau?

Dan aku jadi saksi, ketika berkeliling kota-kota bertemu dengan banyak pengusaha yang dulu bangga dengan aset-asetnya, sekarang datang dengan wajah murung dalam jeratan hutang tak berkesudahan..
Masih mau terus hidup dalam kepalsuan?
@Saptuari

Friday, 1 July 2016

SAUDARA VS PERSAUDARAN



Jika ada yang bertanya, adakah  kaitan antara *saudara* dan *kebahagiaan*.
jawabannya mungkin akan mengagetkan:
*tidak ada kaitannya*.
Saudara tidak akan membuat kita bahagia. *Yang membuat kita bahagia* adalah persaudaraan.
Saudara adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian darah, *berdimensi fisik.*
Sementara persaudaraan adalah orang-orang yang terhubung dengan kita karena pertalian hati, *berdimensi spiritual.*
Jika menilik sejarah, banyak kejahatan yang dilakukan oleh saudara kepada saudaranya sendiri.
Kisah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia, antara *Qabil dan Habil*, dilakukan oleh saudara atas saudaranya sendiri.
Begitu pula dalam kisah konspirasi saudara-saudara Nabi Yusuf untuk melenyapkannya.
Jika dalam kasus Qabil dan Habil berlaku *kejahatan oleh saudara one-on-one*.
Dalam kisah Nabi Yusuf yang terjadi adalah *persekongkolan jahat berkelompok oleh sesama saudara lebih dari satu orang*.
Kisah-kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa saudara yang bertali secara darah *(fisik)* bisa menjadi musuh saat tidak ada pertalian hati *(spiritual).*
*Ada 4 tipe manusia dalam konteks saudara dan persaudaraan* :
1. Saudara yang menunjukkan persaudaraan.
*Inilah surga.*
2. Bukan saudara namun menunjukkan persaudaraan.
*Ini adalah kebahagiaan (happiness)*
3. Bukan saudara dan tidak menunjukkan persaudaraan.
*Ini disebut ketidakbahagiaan (unhappiness)*
4. Saudara tapi tidak menunjukkan persaudaraan.
*Inilah neraka.*
Jika ada orang yang bukan saudara dan dia tidak menunjukkan persaudaraan kepada kita, kita bisa dengan mudah menghindarinya.
*Kita bisa memilih komunitas lain tanpa harus bertemu dengannya.*
Namun akan lebih berat bagi kita jika yang tidak menunjukkan persaudaraan itu adalah saudara kita sendiri.
Disinilah kita perlu memaknai setiap kondisi yang kita hadapi agar tidak mengalihkan kita dari kebahagiaan.
Kepada mereka yang tidak menunjukkan persaudaraan, kita bisa memaknainya sebagai cara Tuhan untuk menjadikan diri kita agar menjadi manusia yang lebih baik.
Hilangnya rasa persaudaraan dari saudara kita tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk merayakan setiap momentum dalam hidup kita.
Lantas, apa yang dibutuhkan untuk memunculkan rasa persaudaraan khususnya antara sesama saudara ?
Kata kuncinya adalah *connectedness*, rasa terhubung satu sama lain, rasa bahwa kita adalah satu tubuh.
Disaat ada bagian dari tubuh kita yang sakit, *maka seluruh tubuh akan merasakannya*.
Demikian pula sebaliknya, saat bagian tubuh yang sakit itu pulih, *seluruh tubuh merasakan kesegaran.*....
WA Group adalah salah satu upaya untuk  menyatukan hati.
*Ada 2 ciri connectedness* :
# Kita merasa senang jika saudara kita mendapatkan kebaikan, dan kita merasa sedih saat saudara kita mendapatkan keburukan.
*Inilah yang dianalogikan sebagai satu tubuh*.
# Kita selalu berhubungan dengan saudara kita meski kita sedang tidak membutuhkannya, *silahturahmi*.
*Semoga bisa jadi inspirasi agar bisa menjadi saudara yg baik dan menjaga persaudaraan....*