Be Yourself

Monday, 22 February 2016

Pengingat 3 : Sawang Sinawang

๐Ÿ‘Œ๐ŸปSawang Sinawang๐Ÿ‘Œ๐Ÿป

Aku melihat hidup orang lain  begitu nikmat, Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..
๐Ÿ˜ฉAku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan, Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..
๐ŸŒŠAku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, Ternyata ia begitu menikmati badai ujian dlm kehidupannya..
๐Ÿ”ŽAku melihat hidup sahabatku  begitu sempurna, Ternyata ia hanya berbahagia  menjadi apa adanya..
๐Ÿ‘ซAku melihat hidup tetanggaku  beruntung, Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..
๐Ÿ’ฐMaka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku.. Tapi rejekiku tahu dimana diriku..
๐ŸŒDari lautan biru, bumi dan gunung, Tuhan telah memerintahkannya menuju kepadaku...
๐Ÿ‘ถTuhan yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku..
๐Ÿ‘ฎAmatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja.. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya..
๐Ÿ“ŒMelalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..
๐Ÿ”ขManusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..
๐Ÿ’ฐMereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..
๐Ÿ‘ทRejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya.. Ikhtiar itu perbuatan.. Rejeki itu kejutan..
๐Ÿ’ตDan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rejeki akan ditanya kelak..
"Darimana dan digunakan untuk apa" Karena rejeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik"...
๐Ÿ”ŽBila aku iri pada rejeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya.... ๐Ÿ˜‡
Jangan lupa doakan sesama dan sedekah terbaiknya..
Posted by vivi sanusi at 03:52 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Tuesday, 9 February 2016

"Sudden Shift", Fenomena Perubahan Tahun Monyet

Copas ....
๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ "Sudden Shift", Fenomena Perubahan Tahun Monyet๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ
Oleh: Rhenald Kasali @Rhenald_Kasali

KOMPAS.com - Lima Tahun yang lalu, mantan Dirut Pertamina, Ari Soemarno pernah menyampaikan sepotong data kepada saya. Itu tentang SHALE OIL, yang kalau sampai Kongres Amerika Serikat memberi Lampu Hijau untuk dieksplore dan diekspor, maka harga Minyak Dunia akan turun drastis.
Data itu rupanya segera direspons oleh para Pemain Saham yang mengakibatkan Harga-Harga Saham Perusahaan tambang Batu Bara Kita anjlok.
Mengapa demikian?
๐Ÿ’ข๐Ÿ’ข๐Ÿ’ข Inilah gejala perubahan mendasar yang disebut 3S :
"Sudden Shift, Speed dan Surprise!"
๐ŸŒป๐ŸŒป SUDDEN SHIFT.
Daripada mereka-reka kapan dollar AS akan kembali turun, atau tenggelam dalam rasa takut yang besar bahwa PHK besar-besaran akan terjadi, lebih baik Kita paham Apa yang tengah terjadi, Mengapa dan Bagaimana meresponsnya.
Gejala ini kita sebut Sudden Shift (tiba-tiba berpindah). Faktanya, konsumennya tetap di situ, populasinya tetap besar (8 miliar jiwa), semuanya Butuh Makan, Minum, Transportasi, Gadget, Hiburan, dan sebagainya. Tetapi SIAPA KAH yang menikmati perpindahan itu?
Sudah begitu, berpindah nya mengejutkan karena seakan "Tiba-tiba (Sudden), Cepat sekali (Speed) dan membuat kita terkaget-kaget (Surprise). Mengapa???
Karena kita mengabaikan, Kita menyangkal, Kita gemar berolok-olok, ber Politic, Bersiasat, Berpura-pura menyelamatkan (padahal menyesatkan). Kadang mengatasnamakan Rakyat pula, menghiburnya, berpura-pura seakan-seakan masalahnya ada di tempat lain.
Kembali ke shale gas, Ari Soemarno memberi tahu Saya bahwa cost-nya Sangat Rendah, demikian Harga Jual nya, yakni dari Harga Jual Gas konvensional. Saya membayangkan begitu informasi itu beredar, maka para pemakai minyak (oil) pun akan beralih? Maka Harga Minyak pun akan goncang. Lalu pada akhirnya, Tambang Energi lain akan terganggu: Batu Bara.
Di luar dugaan Saya, ๐ŸŒบ ternyata Batu Bara terkena imbasnya lebih dulu, lalu baru Minyak. Maklum Harga kertasnya (Saham) sudah lama dijadikan Buble, lagi pula ia sangat merusak lingkungan. Sekarang harga minyak dunia baru turun sekitar 50-60 persen. Para ahli menduga ia masih akan turun hingga sekitar 10 dollar AS (saat ini masih sekitar 30dollar AS) per barel.
Bisa dibayangkan kerugian apa yang akan diderita pengusaha-pengusaha Minyak, kalau mereka tak berani merevolusi Biaya-Biaya kenikmatan yang selama ini sudah dirasakan Para Pegawainya.
Ingaat, Dulu, saat Harga minyak di bawah 10 dollar AS per barel, mereka sanggup berproduksi dengan Biaya 6 dollar AS per barel, ๐ŸŒบ tetapi begitu harga pasarnya 120 dollar AS per barel, mereka berproduksi dengan biaya 100 dollar AS per barel. Segala yang membuatnya Mahal, akan membuat Manusia meningkatkan Biaya Kenikmatan.
๐ŸŒป๐ŸŒป ZALORA
Di Bandara Halim Perdanakusuma, Saya menerima CEO Zalora Indonesia. Anak-anak muda tentu lebih tahu apa itu Zalora. Ini Situs Belanja Online yang sedang digemari konsumen muda. Dengan belanja online, selain mendapat barang-barang baru, anak-anak muda bisa mendapat Harga yg Lebih Murah.
Saat itu saya baru membaca data penjualan Ritel Indonesia yang dilaporkan turun besar-besaran. Keadaan Ekonomi pun kita persalahkan. Bahkan Para Politisi menduga adanya Miss Management dalam Pemerintahan.
Saat industri Ritel konvensional melaporkan penurunan 3-4 persen, Zalora justru mengatakan omzet mereka naik 240 persen. ๐ŸŒบ Dalam dunia online, kalau kami tumbuhnya di bawah 100 persen itu sama dengan kegagalan, ujar mereka.
Saya pikir Zalora masih kecil. Tetapi bayangan saya kembali ke tahun 1998 saat semua orang dicekam rasa takut akibat gelombang PHK. Asing pun hengkang. Ketika para Ekonom di FE UI masih berpikir keras bagaimana menciptakan iklim yang kondusif agar investasi asing kembali lagi, saya memilih untuk mendorong Lahirnya Entrepreneur Lokal.
Saya masih ingat ejekan para ekonom yang mengabaikan kemampuan bangsa ini berwirausaha. Saya bahkan ditanya, Apa Bisnis yang akan dikembangkan wirausaha lokal??
Saya sebutkan nama-nama Produk mereka: Kacang (Garuda dan Dua Kelinci), Herbal (Sido Muncul), Kosmetik (Wardah), Bola buatan masyarakat di Majalengka dan lain-lain.
Di luar perkiraan saya, mereka mempertanyakan, Sampai Kapan Kacang dan Jamu bisa menciptakan Lapangan Kerja?
Yang bisa itu Otomotif. Katena Rakyat kita itu pegawai, bukan entrepreneur.
Anda tahu berapa Jumlah Wirausaha Kita sekarang? Jangan lagi mengatakan masih di bawah 1 persen. Kalau mereka yang sudah terlibat dalam sektor informal saja sudah 60 juta orang, ๐ŸŒบbisa hitung sendiri berapa banyak orang yang sudah bergulat dalam bidang kewirausahaan.
Demikian juga dengan Zalora dan mereka yang bergerak dalam Sektor Ekonomi Kreatif lainnya. Sekarang memang masih kecil. Tetapi mereka memiliki daya disruptif yang bisa menggerus para Pelaku Usaha Konvensional.
๐ŸŒป๐ŸŒป SEMUA SHIFTING.
Pergeseran Konsumsi tak hanya terjadi dalam Dunia Energi dan Belanja melainkan dalam Konsumsi di segala bentuk kehidupan kita. Semuanya bergeser. Keseimbangan baru belum terbentuk, tetapi pindah-pindahnya mulai terasa.
Minggu lalu, 17 Agustus 2015, Indonesia-X baru saja meluncurkan Situs Belajar Bebas Biaya (massive online course) di mana Rumah Perubahan ikut di dalamnya.
Pernahkah anda membayangkan bahwa kampus-kampus besar sedang berjuang melawan perubahan? Ya, di seluruh dunia, bukan cuma Surat kabar berbasis Kertas yang kesulitan karena hadirnya Media-media Online, ๐ŸŒบmelainkan juga Kampus Kampus yang kini ditantang dunia Belajar Online.
Bahkan "Gelar Akademis pun kini mulai ditinggalkan ๐ŸŒบ para Kaum terpelajar Dunia".
Para pemberi kerja mulai melirik Mereka mereka yang tak bergelar. Dari "Siapa kamu" ( atau "Apa gelar akademismu"), dunia manajemen mulai beralih pada Apa yang Bisa Kamu lakukan.
Lihatlah di perusahaan- perusahaan besar, di kartu-kartu nama para pimpinan dan stafnya. Tak banyak lagi yang mencantumkan gelar akademisnya.
Gerakan Masif ini membuat Kaum Muda beralih dari membeli Degree (formal) kepada membeli keahlian dan Paket paket kursus, yang mereka ramu sendiri racikannya. Bukan lagi racikan Akademis yang dibuat Pemerintah karena mereka ingin membangun keahlian yang unik, yang tidak massal dan siap pakai. Dan pasar tenaga kerja Global pun mengakomodir mereka.
APA yang bisa mereka berikan di dunia kerja bukan lagi rangkaian matakuliah racikan kampus.
Dan Indonesia-X menjadi Pelopor Belajar online yang heboh. Kelak Anda bisa mengambil kursus apa saja. Karena murah (gratis), switching cost nya menjadi rendah. Dan perubahan pun terjadi.
๐ŸŒป๐ŸŒป GOJEK, UBER, SEVEN ELEVEN dan lain lain.
Kalau anda belum puas dengan Contoh contoh di atas, maka pelajarilah segala Fenomena di Dunia Transportasi, Retail, Telekomunikasi, Trading, Financing, dan sebagainya.
Anda pasti akan menyaksikan gejala Sudden Shift ini.
Konsumen Perbankan pun mulai meninggalkan kunjungan Ke Loket-loket bank. Mereka beralih ke Mobile Banking. ๐ŸŒบ Pemakaian Voice dalam berkomunikasi beralih ke cara-cara baru: DATA.
Dari voice ke BBM, lalu pindah lagi ke Whatsapp dan Social Media.
Sama halnya PERTARUNGAN sengit yang tengah di hadapi "Tukang-Tukang Ojeg Pangkalan vs Gojek dan Grab-Bike, atau taksi biasa Vs Uber".
Semua ๐ŸŒบ mengalami Gejala Shifting.
Jadi, jangan melulu menyalahkan Krisis Ekonomi Dunia. ๐ŸŒบ Karena Krisis berdampak pada semua usaha dan kali ini terjadi luas di seluruh Dunia.
Yang jauh lebih penting bukan krisis itu sendiri. Bukan dollar AS, tetapi apa respons Kita terhadap usaha yang Kita jalani.
Dan apa respons Kita untuk mempersiapkan ๐ŸŒบ "Masa depan Anak-Anak Kita dalam Dunia yang benar-benar baru ini".
Kalau Anda diamkan, bukan Krisis yang menghantam, tetapi persaingan baru melalui business model yang benar-benar berbeda.
Lagi pula, KRISIS selalu menjadi Alasan bagi kaum Malas untuk berhenti Bekerja, dan bagi mereka yang senang mencari Kambing untuk menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya.
Selamat merenungkannya!
Prof Rhenald Kasali.
Guru Besar Ilmu Manajemen
Posted by vivi sanusi at 01:46 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Wednesday, 3 February 2016

Pengingat ( 2 )

Jangan memperlakukan orang lain semena-mena.
Copas, true story. 

Sebagai istri saya tentu ingin disayang suami.
Belajar masak, rajin bersih-bersih rumah, berlaku lembut penuh cinta kepada suami, dan berusaha hemat dalam penggunaan uang belanja biar disebut istri cerdas & yang tersayang.
Setiap kali belanja kemanapun, saya pasti ngotot berusaha menawar dagangan dengan harga semurah mungkin. Diskon seribu dua ribu saya kejar, padahal energi yang dikeluarkan untuk tawar-menawar panjang bisa lebih dari itu. Tapi demi disayang suami, saya tetep ngotot. Tak jarang suami yang mengantar mulai tidak sabar & geleng-geleng kepala. Saya sih cuek saja, istri pelitnya ini selalu beralasan sama, kan biar hemat.
Suatu sore setelah lelah keliling pasar, di perjalanan menuju parkiran mobil seorang pedagang tanaman bunga yang berusia sepuh menawarkan dagangannya:
Pedagang: “Neng, beli neng dagangan bapak, bibit bunga mawar 5 pot cuma 25.000 per pot”
Tadinya saya cuek, tapi tiba-tiba teringat pekarangan mungil di rumah yang kosong, wah murah nih pikir saya, cuma 25.000/pot, tapi ah pasti bisa ditawar.
Saya: “Ah mahal banget pak 25.000, udah 10.000/pot,” dengan gaya cuek saya menawar sadis.
Pedagang: “Jangan neng, ini bibit bagus. Bapak jual udah murah, 15.000 aja gimana neng bapak udah sore mau pulang.”
Saya ragu sejenak, memang murah sih. Di toko, bibit bunga mawar paling tidak 45.000 harga 1 pot nya. Tapi bukan saya dong kalau tidak berjuang.
Saya: “Halah udah pak, 10.000 ribu aja 1 kalau gak dikasih ya gak apa-apa,” saya berlagak hendak pergi.
Pedagang: “Eh neng…,” dia ragu sejenak dan menghela nafas. “Ya sudah neng gak apa-apa 10.000, tapi neng ambil semuanya ya, bapak mau pulang udah sore.”
Saya: (Saya bersorak dalam hati. Yeee…menang) “Oke pak, jadi 50.000 ribu ya utk 5 pot. Bawain sekalian ya pak ke mobil saya, tuh yang di ujung parkiran.”
Saya pun melenggang pergi menyusul suami yang sudah duluan. Si bapak pedagang mengikuti di belakang. Sesampainya di parkiran, si bapak membantu menaruh pot-pot tadi ke dalam mobil, saya membayar 50.000 lalu si bapak tadi segera pergi. Lalu terjadilah percakapan berikut dengan suami,
Saya: “Bagus kan yang, aku dapet 5 pot bibit bunga mawar harga murah.”
Suami: “Oohh..berapa kamu bayar ?”
Saya: “50 ribu.”
Suami: “Hah…!!! Itu semua 5 pot ?” dia kaget
Saya: “Iya dong… hebat kan aku nawarnya ?
Tadi Dia nawarinnya 25.000 1 pot,” saya tersenyum lebar dan bangga.
Suami: “Gila kamu, sadis amat. Pokoknya aku gak mau tahu. Kamu susul itu si bapak sekarang, kamu bayar dia 125.000 tambah upah bawain ke mobil 25.000 lagi. Nih, kamu kejar kamu kasi dia 150.000 !” Suami membentak keras dan marah, saya kaget dan bingung.
Saya: “Tapi…kenapa..?”
Suami: Makin kencang ngomongnya, “Cepetan susul sana, tunggu apa lagi.”
Tidak ingin dibentak lagi, saya langsung turun dari mobil dan berlari mengejar si bapak tua. Saya lihat dia hendak naik angkot di pinggir jalan.
Saya: “Pak……tunggu pak…”
Pedagang: “Eh, neng kenapa ?”
Saya: “Pak, ini uang 150.000 pak dari suami saya katanya buat bapak, bapak terima ya, saya gak mau dibentak suami, saya takut.”
Pedagang: “Lho, neng kan tadi udah bayar 50.000,  bener kok uangnya,” si bapak keheranan.
Saya: “udah bapak terima aja. Ini dari suami saya. Katanya harga bunga bapak pantesnya dihargain segini,” sambil saya serahkan uang 150.000 ke tangannya.
Pedagang: Tiba-tiba menangis dan berkata, “Ya Allah neng…makasih banyak neng…ini jawaban do'a bapak sedari pagi, seharian dagangan bapak gak ada yang beli, yang noleh pun gak ada. Anak istri bapak lagi sakit di rumah gak ada uang buat berobat. Pas neng nawar bapak pikir gak apa-apa harga segitu asal ada uang buat beli beras aja buat makan. Ini bapak mau buru-buru pulang kasian mereka nunggu. Makasih ya neng…suami neng orang baik. Neng juga baik jadi istri nurut sama suami, Alhamdulillah ya Allah. Bapak pamit neng mau pulang…,”  dan si bapak pun berlalu.
Saya: (speechless dan kembali ke mobil).
Sepanjang perjalanan saya diam dan menangis, benar kata suami, tidak pantas menghargai jerih payah orang dengan harga semurah mungkin hanya karena kita pelit. Berapa banyak usaha si bapak sampai bibit itu siap dijual, tidak terpikirkan oleh saya. Sejak itu, saya berubah dan tak pernah lagi menawar sadis kepada pedagang kecil manapun. Percaya saja bahwa rejeki sudah diatur oleh Tuhan.
Ribuan orang menangis membaca cerita ini, pengingat untuk kita yang kadang tidak adil dalam memperlakukan orang lain semena-mena.
Semoga tidak terjadi pada anda..... SEKEDAR MASUKAN[truncated by WhatsApp]
Posted by vivi sanusi at 07:04 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Pengingat (1)

Copas
Kisah Sahabat Sya'ban  r.a.
Alkisah seorang sahabat bernama Sya’ban RA.
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat – sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum solat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Sallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat solat berjamaah.
Suatu pagi saat solat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Sallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa.
Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir solat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan solat subuh berjamaah.
Selesai sholat subuh, Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab .
Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
RasululLah Sallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk solat duha
(kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut beliau Sallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut. “
Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat solat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“ Beliau telah meninggal tadi pagi”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah ,
satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya...
Beberapa saat kemudian istri Sya’ban  bertanya kepada Rasul Sallallahu `alaihi Wa Sallam
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,
yaitu menjelang kematian-nya dia berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam .
Di masing – masing teriakannya dia berucapkalimat
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru... “
“ Aduuuh kenapa tidak semua…”
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22
(ู„َู‚َุฏْ ูƒُู†ْุชَ ูِูŠ ุบَูْู„َุฉٍ ู…ِู†ْ ู‡َٰุฐَุง ูَูƒَุดَูْู†َุง ุนَู†ْูƒَ ุบِุทَุงุกَูƒَ ูَุจَุตَุฑُูƒَ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุญَุฏِูŠุฏٌ)
yang artinya:
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam “
Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut…
perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk solat berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap:
“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA,
mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat solat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi:
“Aduuuh kenapa tidak yang baru… “
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA.
Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru. 
Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)
Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut , Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar,
demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama…
Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian memperlihatkan ….
ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan sorga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua…”
Sya’ban RA kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah
Masyaallah,
Sya’ban bukan menyesali perbuatannya,
tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas …konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan
Sering sekali kita mendengar ungkapan – ungkapan berikut :
“ Solat Isya berjamaah pahalanya sama dengan solat separuh malam”
“ Solat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan solat sepanjang malam”
“ Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”
Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan terasa longgar.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Mengapa demikian?
Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan….
Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut.
Namun ternyata dia tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah sia – sia.
Penyesalannya   tidak melakukan kebaikan dengan optimal…
Mudah-mudahan kisah singkat ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita selalu diberikan kesempatan, diatur, diselamatkan, serta dicukupkan di dunia dan di akhirat. Aamiin
Posted by vivi sanusi at 06:59 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Wednesday, 23 December 2015

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah

From Allah to Allah: Rezeki Itu Milik Allah
by Leila Hana

"Saya nggak mau jadi ibu rumah tangga saja. Kalau suami meninggal atau kita bercerai, gimana? Siapa yang3 kasih makan saya dan anak-anak? Istri itu harus mandiri finansial supaya bisa punya uang untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa dengan suami."

Seketika, kalimat itu buyar kala saya berhadapan dengan seorang wanita berusia 47 tahun yang datang ke rumah saya untuk mengisi pengajian. Wanita bersahaja itu datang jauh-jauh, cukup jauh dari komplek perumahan tempat tinggal saya, untuk memberi pengajian secara gratis. Ingat, gratis lho.... Nggak ada bayaran sepeser pun kecuali sajian makan siang yang saya berikan. Dia datang untuk menggantikan guru ngaji saya yang berhalangan. Sambil menunggu teman-teman lain, kami ngobrol-ngobrol.

"Coba tebak, anak saya berapa, Bu?" tanyanya, ketika kami sedang ngobrol soal anak-anak. Saya sedikit mengeluhkan kondisi rumah yang berantakan karena anak-anak nggak bisa diam, lalu dia memaklumkan. Namanya juga anak-anak. Dia sudah berpengalaman karena anaknya lebih banyak dari saya.
"Ehm... empat?" (pikir saya, paling-paling cuma selisih satu).
"Masih jauh...."
"Tujuh...."
"Kurang... yang benar, delapan."
Mata saya membelalak. Masya Allah! DELAPAN?!
"Itu masih kurang, Bu. Ustazah Yoyoh (almarhumah Yoyoh Yusroh, mantan anggota DPR) saja anaknya 13. Jadi, saya ini belum ada apa-apanya," katanya, merendah.
Setelah itu, mengalirlah cerita-ceritanya mengenai anak-anaknya sampai teman-teman saya datang dan acara mengaji pun dimulai. Di sela pengajian, wanita itu bercerita mengenai keluarganya. Dari situ saya baru tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia! Meninggal karena kecelakaan motor, meninggalkan istri dan delapan anak, yang terkecil berusia 2,5 tahun dan sang istri, ya... wanita itu... seorang IBU RUMAH TANGGA.
Ibu rumah tangga di sini maksudnya nggak kerja kantoran, tapi juga bukan pengangguran. Beliau aktif mengisi pengajian. Lalu, bagaimana kehidupannya setelah suaminya meninggal? Beliau nggak punya gaji, nggak kerja kantoran. Coba, gimana? Apa beliau lalu sengsara dan anak-anaknya putus sekolah? No. no, no....

Kalau saya mengingat kalimat pembuka di atas kok kayaknya mustahil ya seorang ibu yang nggak bekerja dan suaminya meninggal dunia, bisa bertahan hidup dengan delapan anak dan anak-anaknya bisa tetap kuliah. Mustahil itu... NGGAK MUNGKIN!
"Bagi Allah, nggak ada yang nggak mungkin, Bu. Asal kita percaya sama Allah. Allah yang kasih rezeki, kan? Percaya saja sama Allah. Saya cuma yakin bahwa semua yang saya dapatkan selama ini adalah karena kebaikan-kebaikan saya dan suami semasa hidup. Saya cuma berbagi pengalaman ya, Bu, bukan mau riya. Memang, suami saya dulu itu orangnya pemurah. Kalau ada yang minta bantuan, dia akan kasih walaupun dia uangnya pas-pasan. Alhamdulillah, Allah kasih ganti. Sewaktu suami masih hidup, kami hidup sederhana. Rezeki suami itu dibagi ke orang-orang juga, padahal anak kami ada delapan. Suami nggak takut kekurangan....."
Kami menahan napas.....
"Hingga suami saya meninggal dunia... uang duka yang kami dapatkan itu... Masya Allah... jumlahnya 100 juta. Padahal, suami saya itu biasa-biasa saja, bukan orang penting. Uang itu langsung dibuat biaya pemakaman, tabungan pendidikan anak, dan sisanya renovasi rumah yang mau ambruk."
Dengar uang 100 juta dari uang duka saja, saya sudah kagum.
"Saat renovasi rumah, saya serahkan saja ke tukangnya. Dia bilang, uangnya kurang. Saya lillahi ta'ala saja. Yang penting atap rumah nggak ambruk, karena memang kondisinya sudah memprihatinkan. Khawatirnya anak-anak ketimpa atap....."
Saya membayangkan, keajaiban apa lagi yang didapatkan oleh wanita itu?
"Nggak disangka. Begitu orang-orang tau kalau saya sedang renovasi rumah, mereka menyumbang. Bukan ratusan ribu, tapi puluhan juta! Sampai terkumpul 100 juta lagi dan rumah saya seperti bisa dilihat sekarang.... Sampai hari ini, saya masih dapat transferan uang dari mana-mana, Bu-Ibu. Saya nggak tau dari siapa aja karena mereka nggak bilang. Saya juga udah nggak pernah beli beras lagi sejak suami meninggal. Selalu ada yang kasih beras."
Duh, nggak bisa nahan airmata deh jadinya....

Apa rahasianya?
"Berbuat baik kepada siapa saja, sekecil apa pun. Insya Allah ada balasannya. Rezeki itu milik Allah. Kalau Allah berkehendak, Dia akan kasih dari mana pun asalnya...." tutupnya.
Rezeki itu milik Allah, siapa pun tidak boleh takabur. Bekerja bukanlah sarana menyombongkan diri bahwa hidup kita bakal terjamin karena bekerja. Yang menjamin hidup kita adalah Allah. Bekerja diniatkan untuk ibadah. Pembuka rezeki bisa datang dari mana saja, salah satunya dari berbuat kebaikan sekecil apa pun.
Ucapan, "Kalau suami meninggal atau bercerai, siapa yang kasih makan saya dan anak-anak?" itu sama saja dengan sirik, atau menduakan Allah.
Menganggap diri kita super, dengan kita bekerja, maka rezeki terjamin. Padahal, Allah yang kasih rezeki. Jika dulu Allah kasih rezeki melalui suami, besok Allah kasih lewat jalan lain. From Allah to Allah.๐ŸŒŸ
Smg bermanfaat...
Posted by vivi sanusi at 04:51 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Sunday, 8 November 2015

Kembalikan Anak Lelakiku



Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya : “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.

Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”

Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.

Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.

Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu

Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.
Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.

Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah.

Itu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku “Izinkan Aku Bertutur”
Copas dari Fb Ning Rahmi






Posted by vivi sanusi at 01:02 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Monday, 14 September 2015

Memanfaatkan Limbah Dapur Sebagai Penghias Dapur

copas dari www.rooang.com

copas dari www.rooang.com




Dinukil dari http://rooang.com/2015/02/hijaukan-dapur-dengan-tumbuhan-sayur/ dan http://www.1001fakta.com/2014/04/mau-hemat-tanam-kembali-limbah-dapur.html salah satu cara menghias dapur adalah dengan berkebun mini,memanfaatkan limbah dapur seperti bonggol sawi,daun bawang,kemangi,seledri,bawang putih bahkan wortel.Hanya dengan media air serta cangkir atau toples,kita bisa memperindah dapur sekaligus menanam sendiri untuk kebutuhan masak memasak.


kemangi penghias dapur ***copas dari www.1001fakta.com


Kriteria tanaman yang bisa ditanam kembali adalah yang memiliki akar atau jenis umbi. Jenis ini lebih mudah ditanam daripada jenis lainnya. Untuk jenis sayur , sisakan bagian pangkalnya yang berakar. Sayur yang tidak berakar akan lebih sulit ditanam kembali. Untuk cabai, cukup tanam bagian bijinya.

Selama ini kita biasa menanam kunyit,jahe atau cabe rawit di pot atau di tanah pekarangan,setelah melihat link diatas ada alternatif lain memanfaatkan limbah dapur,daripada terbuang ke bak sampah.
Yuuuk kita hijaukan dapur dan rumah...


Posted by vivi sanusi at 08:28 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Newer Posts Older Posts Home

Kategori

  • CJ NETtv (8)
  • jalan hemat (4)
  • piknik murah meriah (3)
  • renungan (24)

glitter-graphics.com

Blog Archive

  • ▼  2023 (2)
    • ▼  October (1)
      • Kecantikan Kampung Berseri Astra ( KBA ) Jorong Ta...
    • ►  May (1)
  • ►  2019 (1)
    • ►  July (1)
  • ►  2017 (42)
    • ►  August (1)
    • ►  July (4)
    • ►  June (6)
    • ►  May (7)
    • ►  April (6)
    • ►  March (3)
    • ►  February (11)
    • ►  January (4)
  • ►  2016 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (3)
    • ►  July (5)
    • ►  June (10)
    • ►  February (7)
  • ►  2015 (36)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (8)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (2)
    • ►  January (19)
  • ►  2014 (5)
    • ►  December (4)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2012 (17)
    • ►  November (17)
Flag Counter

Total Pageviews

About Me

vivi sanusi
View my complete profile

Followers

Instagram

Translate

RumahHokie.com

My Blog List

  • The Naked Traveler
  • LYNN
  • Little Things To Share
  • vivi's Site
  • Lonely Planet Travel Guides and Travel Information
  • Ulasan Liburan - Hotel, Paket Liburan, dan Atraksi Wisata - TripAdvisor
Awesome Inc. theme. Theme images by tolgakolcak. Powered by Blogger.